Paska Bom Surabaya Islamophobia Meningkat, Fadli Zon Minta Pemerintah Jokowi Tanggung Jawab

16/05/2018 16:28 WIB POLITIK
video santri.jpg

Jakarta, Harian Umum- Wakil Ketua DPR Fadli Zon menuding pemerintahan Jokowi gagal menjamin keamanan, sehingga Islamophobia meningkat tajam pasca serangan teror bom di Surabaya.

"Pemerintah gagal jamin keamanan dan kini harus bertanggung jawab jika terjadi arus #Islamophobia oleh oknum-oknum Islamophobik," katanya seperti dikutip harianumum.com dari akun Twiter @fadlizon, Rabu (16/5/2018).

Untuk diketahui, paska serangan bom di Surabaya yang menyasar Gereja Pantekosta, Gereja Kristen Indonesia, Gereja Santa Maria Tak Bercela dan kantor Polrestabes Surabaya pada Minggu (13/5/2018) dan Senin (14/5/2018), Mabes Polri tak hanya memberlakukan status Siaga 1 di semua jajarannya di tingkat Polda, Polres dan Polsek, namun juga meningkatkan perilaku Islamophobia di kalangan masyarakat yang selama ini memang kurang ramah terhadap islam.

Sebuah video tentang seorang santri yang sedang dalam perjalanan pulang dari pesantren ke rumahnya, viral di media sosial, karena oleh polisi dia diminta memgeluarkan isi kardus dan ranselnya, karena dicurigai membawa barang berbahaya.

Dengan merah dan tersinggung, Santri itu membongkar isi kardus dan ranselnya, dan dibuang ke hadapan polisi-polisi itu. Isinya ternyata hanya pakaian si Santri.

"Ini bentuk pelecehan verbal. Ketika performance berbusana dicurigai sebagai "Kostum Teroris". Stigma negatif akan terus ditempelkan untuk mendiskreditkan kelompok umat Islam. Jika ini terus terjadi, desain SKENARIO DALANG aksi terorisme berhasil menegatifkan simbol-simbol Islam," kata akun Twitter @GanSrigala ketika mengomentari video itu.

Peningkatan aksi Islamophobia paling parah terjadi di Surabaya. Seorang gadis bernama Nisa yang setiap hari berpakaian syar'i, lengkap dengan hijab, diusir sopir angkot saat akan menaiki mobil yang dikemudikannya itu.

"Kejadiannya kemarin, di hari yang sama saat ledakan di Polrestabes Surabaya. Ledakan jam 08.50, kejadian saya di daerah Indrapura Surabaya jam 18.15," katanya kepada wartawan yang menghubungi.

Angkot yang akan dinaiki Nisa hampir penuh, dan ia melihat tatapan penumpang lain saat ia akan naik; semua terlihat cemas. Bahkan ada yang nyeletuk agar isi ransel besar warna ungu dan tas jinjing hitam yang dibawanya, diperiksa, karena dicurigai ada bom.

Nisa mencoba berbesar hati meski merasa tak enak dan risau. Benar saja, baru sekitar 10 menit ia duduk, sopir menyuruhnya turun dengan alasan angkot sudah penuh. Nisa sempat berkilah kalau ia bisa duduk di bangku yang berada di pintu, namun tak diperkenankan. 

Karena tak ingin ribut, Nisa pun berlalu. Namun ia sempat menjelaskan kepada penumpang angkot itu kalau isi ranselnya terdiri dari laptop dan jaket.

Informasi lain juga menyebutkan, kini umat non muslim cemas jika bertemu atau berada di tempat yang sama dengan umat Islam yang berjenggot dan membawa ransel.

"Teman saya yang non Muslim malah sempat cerita kalau saat ia bertemu laki-laki berjenggot yang membawa ransel di lift sebuah kantor, ia sampai berusaha mendengarkan apakah dari ransel itu terdengar suara "tik tik tik" yang mengindikasikan adanya bom waktu di dalam ransel itu," kata Rahmat, sumber harianumum.com.

Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah mengatakan, musuh rakyat adalah pemerintahan yang gagal membuat rakyat merasa bagaikan saudara.

"Musuh kita adalah pemerintah yang gagal membuat kita bersaudara, sebab agama tidak ada mengajarkan kebencian .... ajaran kebencian datang dari khotbah mereka yang gagal mengelola negara ... perhatikanlah ...," kata mantan politisi PKS itu melalui akun Twitter @Fahrihamzah.

Akun twitter @Hulk_idn menuding Kapolri sebagai pihak yang memicu peningkatan Islamophobia ini, terutama di kalangan aparat kepolisian.

"Setiap polisi yang ditugaskan razia di jalan sudah didoktrin untuk membenci Islam. Mereka didoktrin bahwa pakaian Islami dianggap sebagai ancaman teroris. Otak di balik ini semua adalah tito karnavian. *infovalid," kata akun Twitter @Hulk_idn. (rhm)

BERITA TERKAIT