Ini Penyebab Kerusuhan di Mako Brimob Menurut Versi TPM

10/05/2018 22:38 WIB HUKUM
Joserizal-dan-Achmad-Michdan.jpg

Jakarta, Harian Umum- Tim Pengacara Muslim (TPM) menilai, kerusuhan yang terjadi di Rutan Mako Brimob Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat, bukan semata-mata karena masalah makanan seperti diklaim kepolisian, namun ada persoalan lain yang jauh lebih mendasar.

"Salah satu pemicu kerusuhan adalah karena hak-hak kemanusian para narapidana kasus terorisme (Napiter) yang ditahan di sana, telah dilanggar," jelas anggota TPM Ahmad Michdan dalam jumpa pers di Kantor Mer C, Jakarta Pusat, Kamis (10/5/2018).

Ia menyebut, pelanggaran itu telah dimulai sejak dari penangkapan, penahanan hingga disidangkan.

Selama ini, jelas Michdan, penangkapan terhadap para Napiter tidak manusiawi, karena seharusnya mereka ditangkap secara baik-baik, tidak perlu diculik dan perlakuan kasar. Apalagi karena saat penangkapan, mereka tidak sedang melakukan hal-hal yang membahayakan.

Contohnya, saat mereka sedang berjualan, tiba-tiba diculik. Dan ia meyakini kalau para Napiter itu sebenarnya orang baik-baik.

"Kalau soal kekerasan (fisik), itu sudah dari awal hingga mereka menjadi narapidana, mereka terima. Dan itu dari dulu sudah saya adukan ke Komnas HAM," tegasnya.

Soal pemeriksaan terhadap keluarga yang akan menjenguk di Rutan Mako Brimob, lanjut Michdan, polisi juga melakukannya dengan super ketat, sehingga ada istri Napiter yang mengadu kalau saat mereka akan masuk, mereka digeledah sedemikian rupa, bahkan ada yang sampai ditelanjangi.

"Nah, suami yang mendapat pengaduan seperti ini kan tentu saja akan marah. Apalagi karena mereka memiliki pemahaman tentang Islam yang kuat," katanya. 

Soal jatah makanan yang diberikan polisi kepada Napiter, lanjut MIchdan, juga jauh dari kata layak, karena bukan hanya porsi makanannya sedikit, tapi kandungan gizi dalam makanan itu juga tidak memadai. 

Selain itu, akhir-akhir ini para Napiter juga tidak boleh menerima makanan dari luar yang dibawa oleh pembesuk.

"Dulu, menjelang bulan Ramadhan, biasanya mereka juga akan memperoleh makanan tambahan dengan gizi yang lebih baik, seperti kurma dan lainnya, tapi kali ini tidak diperkenankan. Sementara di sisi lain, mereka butuh itu untuk menghadapi Ramadhan satu bulan penuh. Padahal menurut protapnya, kalau tidak diperbolehkan membawa makanan dari luar, maka gizi itu disediakan dari Lapas," jelasnya.

Maka, sambung Michdan, terjadilah peristiwa pada Selasa (8/5/2018) malam lalu, dan itu, menurutnya, merupakan puncak kemarahan pada Napiter.

Kejadian bermula ketika jadwal besuk untuk mereka dibatalkan oleh pihak Rutan, dan mereka juga tidak boleh didampingi oleh penasihat hukum, kecuali yang kenal dengan TPM.

Maka, meledaklah amarah para Napiter itu, dan terjadi kerusuhan.

"Saya kira itu akumulasi dari permasalahan-permasalahan yang ada. Kita bisa ambil hikmah dari tragedi ini," tegas Michdan.

Seperti diketahui, kerusuhan di Rutan Mako Brimob itu menewaskan lima orang polisi dan seorang Napiter. 

Menyusul kejadian ini, 155 Napiter yang terlibat kerusuhan, kini dipindahkan ke Nusakambangan.

Michdan berharap kasus ini tidak merembet ke Lapas-Lapas lain, seperti di Nusakambangan. Dia berharap ada pihak independen yang melakukan penelitian terhadap kasus ini agar tidak terulang kembali. 

"Bagaimanapun juga, meski TPM membela mereka, kami berharap tidak ada lagi teroris di Tanah Air ini," tegas Michdan. (rhm)

BERITA TERKAIT