KM Sanus Tak Mampu Dongkrak Pariwisata Kepulauan Seribu Secara Siginifikan

08/12/2017 02:37 WIB PEMERINTAHAN
snus.jpg

Jakarta, Harian Umum- Kapal perintis milik PT Pelni yang melayani penyeberangan dari Pelabuhan Sunda Kelapa, Jakarta Utara, ke Kepulauan Seribu, ternyata tak mampu mendongkrak jumlah wisatawan ke wilayah itu secara siginifkan.

Padahal, kapal yang dioperasikan sejak Januari 2016 dan bernama KM Sabuk Nusantara (Sanus) 66 itu tak hanya berkapasitas 144 penumpang, namun juga mengenakan harga tiket yang reatif murah, hanya Rp15.000/orang.

"Laju kapal itu terlalu lambat, sehingga jika dengan kapal boat jarak tempuh antara Pelabuhan Sunda Kelapa ke Pulau Harapan dapat ditempuh dalam waktu 2 jam, dengan KM Sanus 66 bisa 3 jam," jelas Kepala Suku Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Sudinparbud) Kabupaten Kepulauan Seribu, Cucu Ahmad Kurnia, kepada harianumum.com di Jakarta, Kamis (7/12/2017).

Ia menambahkan, dengan laju yang lamban seperti itu, bagi wisatawan yang ingin menikmati suasana dan panorama laut, memilih pergi ke Kepulauan Seribu dengan kapal itu merupakan pilihan yang tepat. Tapi bagi wisatawan yang ingin segera tiba di pulau dan menikmati suasana di sana, maka naik boat atau perahu nelayan dari tiga titik penyeberangan, tetap menjadi pilihan. Meski tarif lebih mahal.

Ketiga titik itu adalah Muara Angke, Marina dan Kaliadem.

"Selain masalah kecepatan laju, tubuh kapal yang sangat besar membuat kapal itu hanya dapat berlabuh di tiga pulau, yakni Pulau Untung Jawa, Pramuka dan Harapan, sehingga jika wisatawan ingin berwisata ke Pulau Tidung, Pari, Macan atau lainnya, mereka harus nyambung dengan kapal yang lain," imbuh Cucu.

Meski demikian Abang Jakarte 1995 ini mengatakan, pihaknya mengapresiasi Kementerian Perhubungan (Kemenhub) cq PT Pelni yang telah memenuhi permintaan gubernur yang kala itu masih dijabat Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, karena dengan beroperasinya KM Sanus, maka sarana transportasi penyeberangan ke Kepulauan Seribu bertambah satu.

Diakui, selama ini sarana transportasi itu masih kurang. Bahkan sarana transportasi antarpulau yang memungkinkan penduduk suatu pulau di Kepulauan Seribu dapat berinteraksi secara langsung dengan penduduk di pulau yang lain, masih belum ada, sehingga penduduk Kepulauan Seribu hanya mengenal penduduk di pulau dimana dirinya tinggal saja.

"Yang ada saat ini hanya sarana penyeberangan dari Jakarta ke pulau-pulau tertentu di Kepulauan Seribu. Karena itu saat ini saya juga sedang memikirkan untuk mencari pengusaha yang mau menjadi pioner dengan mengoperasikan sebuah kapal dengan rute dari pulau ke pulau, namun dapat sandar di dermaga semua pulau itu," imbuh Abang Jakarte 1995 itu.  

Menurut data, selain Pulau Harapan, Untung Jawa dan Pramuka, pulau-pulau lain di Kepulauan Seribu yang memiliki dermaga adalah Pulau Kelapa (2 dermaga), Tidung (2 dermaga), Pari (1 dermaga), Lancang (1 dermaga) dan Sabira (1 Dermaga).

Namun selain Pulau Harapan, Pramuka, dan Untung Jawa, dermaga-dermaga di Pulau Kelapa, Tidung, Pari, Lancang dan Sabira hanya dapat disinggahi kapal-kapal kecil seperti boat, cruiser dan kapal nelayan.

Pada 2016, Kepulauan Seribu mendapat 834.544 kunjungan wisatawan mancanegara (Wisman) dan wisatawan Nusantara (Wisnus).

Dari jumlah itu, terbanyak yang melancong ke Pulau Untung Jawa (232.669 kunjungan), disusul Tidung (141.352 kunjungan), Pari (108.885 kunjungan), Pramuka (88.298 kunjungan) dan Harapan (86.097 kunjungan).

Seperti diketahui, Kemenhub menugaskan Pelni agar mengoperasikan KM Sanus untuk melayani penyeberangan dari Pelabuhan Sunda Kelapa ke Kepulauan Seribu, atas permintaan Ahok. 

Saat mulai dioperasikan pada Januari 2016, yang dilayarkan adalah KM Sanus 46, namun pada Mei 2017 kapal itu ditarik dan digantikan dengan KM Sanus 66. Hingga hari ini.

Saat mulai dioperasikan, KM Sanus digadang-gadang akan dapat semakin menggairahkan industri pariwisata di Kepulauan Seribu karena kapasitasnya yang besar dan tarifnya yang murah. (rhm) 
 

BERITA TERKAIT