Pulau Tidung Jadi Pilot Project Pengembangan Wisata di Kepulauan Seribu

08/12/2017 00:13 WIB KULINER
P_20171207_104818.jpg

Jakarta, Harian Umum- Kebijakan Wagub DKI Jakarta Sandiaga Uno untuk berkantor di Kabupaten Kepulauan Seribu setiap sekali dalam sepekan, berdampak positif bagi industri wisata di wilayah tersebut.

Pasalnya, seiring dengan kebijakan itu, Pulau Tidung dijadikan pilot project guna kian mendongkrak kunjungan wisata di Kepulauan Seribu.

"Ketika kami diinfokan bahwa Wagub akan merealisasikan janji untuk berkantor di Kepulauan Seribu, kami berkumpul dan membahas apa kira-kira yang akan kami lakukan untuk mendukung kebijakan tersebut, karena kami ingin selama Wagub berkantor di sana, ada yang juga menjadi fokus kegiatan. Bupati lalu menyepakti untuk menjadikan Pulau Tidung sebagai project pilot," ujar Kasudin Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Kepulauan Seribu, Cucu Ahmad Kurnia, kepada harianumum.com di Jakarta, Kamis (7/12/2017).

Ia menambahkan, Pulau Tidung dipilih karena inilah salah satu pulau dengan kunjungan wisatawan paling tinggi di Kepulauan Seribu, namun juga merupakan pulau yang punya banyak masalah dari segi sumber daya manusia (SDM).

"Banyak wisatawan yang kecewa setelah berkunjung ke pulau itu, dan mengadu kepada kami. Kalau masalah SDM ini dapat kita atasi, bukan mustahil jumlah kunjungan wisata ke pulau ini akan turun drastis," imbuh Cucu.

Ia menjelaskan, masalah SDM yang dimaksud adalah yang terkait dengan kultur masyarakat setempat yang cenderung kurang memperhatikan penampilan, dan cara masyarakat pemilik homestay dalam menjalankan bisnis serta melayani wisatawan.

"Meski setiap hari Pulau Tidung didatangi wisatawan, penampilan warga di sana sungguh tak sedap dipandang (dekil), sangat tidak pas dengan status pulaunya sebagai destinasi wisata," jelas Cucu. 

Tak hanya itu, meski masakan berbahan ikan yang dibuat warga sangat lezat, tak kalah dengan masakan koki di restoran berbintang, namun cara memasak dan menyajikannya membuat tak sedikit wisatawan yang justru kehilangan selera makan.

Di sisi lain, karena jumlah homestay terus menjamur, sehingga saat ini jumlahnya telah mencapai sekitar 300 unit, terjadi perang tarif yang tidak sehat.

"Pelayanan pun buruk. Bahkan ada homestay yang hanya memberi fasilitas satu AC untuk dua kamar," imbuh Cucu.

Diakui, selama ini pihaknya telah berusaha keras mengubah kultur masyarakat Pulau Tidung dan mengarahkan para pemilik homestay agar memperbaiki cara berbisnisnya, namun tak mudah karena pendidikan tertinggi warga setempat adalah SMA.

"Yang kuliah biasanya tinggal atau kos di Jakarta," imbuh Cucu.

Ia yakin, dengan ditetapkannya Pulau Tidung sebagai pilot project, masalah SDM dan cara pemilik homestay berbisnis, dapat diperbaiki, sehingga seluruh elemen di pulau seluas 50,13 hektare itu menjadi faktor yang ikut menunjang meningkatnya kunjungan wisata di pulau yang dikenal dengan Jembatan Cinta-nya itu.

Menurut data, pada 2015 wisatawan Nusantara (Wisnus) dan wisatawan mancanegara (Wasman) yang mengunjungi Kepulauan Seribu mencapai 812.257 kunjungan. Dari jumlah tersebut, 187.971 kunjungan terjadi di Pulau Tidung.

Pada 2016, jumlah kunjungan Wisman dan Wisnus ke Kepulauan Seribu menanjak menjadi 834.544 kunjungan, namun yang berkunjung ke Pulau Tidung turun menjadi 146.351 kunjungan. 

Pada 2017, ada 11 proyek yang dikerjakan di Pulau Tidung, di antaranya proyek pembangunan pusat informasi dermaga selatan, perbaikan facade bangunan permukiman dan penataan kawasan Jembatan China.

Pada 2018, jumlah proyek yang dikerjakan turun menjadi delapan, di antaranya proyek penataan kawasan pantai, termasuk pembangunan gazebo, sambungan air minum dan saluran limbah; pembangunan MCK Internasional, pembangunan jalan tengah pulau, pembangunan jalan utara pulau dan perbaikan facade bangunan permukiman. (rhm)

BERITA TERKAIT