Dukung Gerakan Boikot MetroTV, Ratusan Ribu Warganet Teken Petisi

07/12/2017 18:09 WIB HUKUM
#BoikotMetroTV_TT.jpg

Jakarta, Harian Umum- Kebijakan redaksi MetroTV menyiarkan opini bertajuk "Meneladani Toleransi Sang Nabi" yang tayang pada 1 Desember 2017 berbuntut panjang.

Pasalnya, tayangan yang dianggap menghina dan memfitnah umat Islam itu tak hanya membuat televisi itu dilaporkan ke Komisi Penyiaran Indonesia (KPI), namun juga memicu aksi boikot terhadap televisi yang fokus menyiarkan tayangan berita tersebut.

Data yang dihimpun, Kamis (7/12/2017), seruan boikot itu antara lain disuarakan seorang warganet bernama Triyan Wibowo melalui petisi bertajuk "Aksi Nyata Boikot MetroTV" yang dibuat di situs change.com

"Di awal kehadiran MetroTV sangat membanggakan, karena yang ditayangkannya berita ter-up date," ujar Triyan di awal petisinya.

Tapi setelah MetroTV sering memihak, sering menyudutkan dan sering memutarbalikkan fakta terhadap beritanya, lanjut dia, masyarakat semakin geram terhadap ulah TV yang satu ini.

Pasalnya, yang disampaikan tidak berimbang, selama bertahun-tahun menggiring opini seolah-olah menyudutkan agama Islam dan umat Islam sebagai teroris dan mereka sekarang malah yang merasa dizalimi, merasa yang terintimidasi.

"MetroTV sudah tidak layak menyandang predikat TV berita, dan tidak seharusnya sarana publik digunakan untuk membodohi publik. Cepat atau lambat apa yang kalian beritakan akan menjadi bumerang bagi kalian. Kami sebagai rakyat Indonesia, terutama kaum Muslimin, tidak akan membiarkan ada media pembodohan, penyebar fitnah di Indonesia," imbuhnya.

Karena hal tersebut, Triyan mengimbau, sebagai kado bagi ulang tahun MetroTV yang ke-16, umat Islam jangan lagi menonton acara televisi yang beralamat di kawasan Kedoya, Jakarta Barat, tersebut, agar ratingnya rendah.

Hingga Kamis pagi pukul 07:27 WIB,  petisi itu telah diteken 137.734 orang.

Seperti diberitakan sebelumnya, pada 1 Desember 2017 atau sehari sebelum Reuni 212, MetroTV menayangkan sebuah berita yang dikemas dalam bentuk opini, dan ditayangkan melalui Program Editorial Media Indonesia.

Dalam tayangan berjudul "Meneladani Toleransi Sang Nabi" ini pembahasan difokuskan pada rencana umat Islam menggelar Reuni 212 di Monas.

Pada menit ke 3:16, narator tayangan itu mengatakan begini: "Celakanya, intoleransi itu dipraktikkan untuk kekuasaan politik dengan mengatasnamakan agama. Lebih celaka lagi, mereka berencana berkumpul merayakan intoleransi itu dengan gegap gempita, huh! Ini tentu bisa membuat korban intoleransi semakin terluka. Ketika pihak yang terluka disuruh move on, supaya lukanya lekas pulih, pihak sebelah justru menari di atas luka itu dengan merayakan kemenangan mereka dengan cara gegap gempita".

Tak lama setelah tayangan muncul, kecamanan dan kemarahan terhadap MetroTV menghiasi laman media sosial.

"Semoga narasi biadab ini tidak dimainkan oleh menteri agama kita yang telah menganugerahi metro tipu sbg .... yach sudahlah mereka sudah ngaku terluka dg kekalahan ahok," kata pemilik akun @kigrinsing.

"Media biadab .... pak mentri @lukmansaifuddin begini ulah tv yang engkau beri penghargaan," ujar pemilik akun @usahabatan.

Tak berhenti sampai di situ, Ketua Umum DPP Pengusaha Muda Indonesia, Sam Aliano, yang ikut menghadiri Reuni 212, melaporkan MetroTV ke KPI karena dianggap telah melanggar kode etik jurnalistik, membohongi publik dan menyiarkan keterangan palsu.

Sam meminta KPI memberikan sanksi kepada televisi itu dan juga menuntut agar manajemen MetroTV meminta maaf kepada umat Islam.

Gerakan boikot MetroTV muncul sejak Senin lalu dengan viralnya tagar #BoikotMetroTV di media sosial seperti Twitter. Gerakan ini bahkan telah ditanggapi dengan angkuh oleh seorang reporter televisi tersebut, Bremana Endratenaya.
"#boikotmetrotv? Silakan .... Kalian bukan target audience kami," katanya melalui akun Twitter pribadinya, @BREtenaya. (rhm)

BERITA TERKAIT