Jakarta, Harian Umum - Ketua Umum Relawan Kesehatan Indonesia (Rekan Indonesia) Agung Nugroho dengan tegas menolak Rancangan Peraturan Daerah tentang Kawasan Tanpa Rokok (Raperda KTR) yang sedang dibahas DPRD DKI Jakarta, dan ditargetkan telah dapat disahkan pada akhir 2025 ini.
Rekan Indonesia tegas menolak karena yakin Raperda itu merupakan hasil dari sebuah konspirasi global demi keuntungan industri farmasi.
'Saat ini, di tengah pasar bebas, terjadi pertarungan antara industri farmasi dengan industri tembakau. Mengapa industri farmasi begitu getol membunuh industri tembakau? Karena banyak khasiat tembakau, sehingga jika orang masih mengonsumsi tembakau, maka beberapa produk farmasi tidak laku," kata Agung di Jakarta, Kamis (10/7/2025).
Ia merujuk pada jurnal ilmiahnya Wanda Hamilton yang dibukukan dengan judul 'Nikotin War". Buku hasil penelitian Wanda ini mengungkap tentang manfaat tembakau yang dapat meringankan asma, mengurangi alergi terhadap udara dingin, dan meningkatkan antibodi.
Ketika jurnal itu terbit, jelas Agung, industri farmasi belum berkembang, dan PBB masih menggunakan jurnal itu sebagai rujukan pada tahun 1980.
"Begitu era farmasi berkembang, farmasi melihat nikotin dalam tembakau kalau dibikin dalam bentuk obat nilainya akan.lebih tinggi ketimbang mengonsumsi tembakau secara langsung. Maka, mereka punya kepentingan untuk.meruntuhkan industri tembakau sehingga orang tidak lagi mengonsumsi secara langsung," sambung Agung.
Untuk menggolkan tujuan tersebut, maka industri farmasi berkonspirasi dengan dunia kesehatan, sehingga banyak dokter yang mengampanyeka bahaya tembakau, salah satunya rokok. Pertarungan ini lalu dilegacy oleh WHO yang mendapat banyak guyuran dana dari insustri farmasi sehingga WHO punya kepentingan untuk melarang rokok, dan dari situ muncullah term umum dalam kedokteran bahwa rokok bisa membahayakan kesehatan.
Ketika ditanya tentang kabar yang mengatakan bahwa rokok dapat mempengaruhi kesehatan paru-paru, Agung mengatakan bahwa hal itu bisa dijelaskan secara ilmiah.
"Penyebab (penyakit) paru-paru itu banyak, bukan cuma rokok. Ada penelitian di Swedia mengapa orang merokok paru-parunya bisa sakit? Itu karena dia merokok filter. Jadi, kalau kita merokok filter kan ada lingkaran di batang rokok. Nah, itu sebetulnya batas bara untuk tidak lagi dihisap. Kalau dihisap terus, maka filternya terkena panas sehingga zat kimianya memuai dan membuat paru-paru rusak atau sakit. Jadi, bukan dari tembakaunya," tegas Agung.
Ia tak memungkiri kalau yang menjadi trigger untuk dihajar adalah rokok kretek alias rokok tradisional.
Ketika disinggung soal adanya peringatan bahaya merokok pada setiap bungkus rokok, Agung mengatakan bahwa kebijakan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menginduk ke WHO.
"Maka, oleh Kemenkes dibuatlah simbol-simbol menakutkan agar orang tidak merokok. Padahal, suku Indian sejak tahun. 1700-an sudah merokok," katanya.
Meski demikian, Agung mengatakan, meski tembakau dikampanyekan sedemikian rupa, industri rokok di Indonesia tidak limbung.
"Untuk industri skala besar, kampanye bahaya rokok memang mempengaruhi mereka, tetapi bagi industri kecil, dari hasil penerimaan kami, justru tidak. Indikasinya, karena sekarang ini banyak rokok black market bermunculan di pasar, ada yang bermerek Janaka, Alaska, dan sebagainya," kata dia.
Seperti diketahui, selama ini rokok memang dikampanyekan sebagai salah satu sumber penyakit, sehingga masyarakat disarankan untuk menjauhinya, dan bagi yang merokok disarankan untuk berhenti.
Bahkan, selama ini di dalam gedung seperti perkantoran dan restoran, disediakan tempat khusus merokok, sementara PT KAI bahkan melarang calon penumpangnya dilarang merokok di peron. (rhm)







