Teheran, Harian Umum - Iran dan Amerika Serikat (AS) saling ancam setelah Iran dengan tegas menolak permintaan Presiden AS Donald Trump agar menyerah tanpa syarat.
Penolakan itu membuat Trump mengancam akan menyerang Iran lebih keras, bahkan skalanya mencapai penghancuran total.
Ancaman itu dibalas Iran dengan akan menghentikan ekspor minyak, sehingga bukan hanya akan membuat harga minyak melambung, tapi juga bisa memicu krisis energi di seluruh dunia.
Ancaman itu disampaikan Juru bicara Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), Jenderal Ali Mohammad Naeini
"Juru bicara Korps Garda Revolusi Islam memperingatkan bahwa Iran mungkin akan mengambil tindakan untuk menghentikan ekspor "satu liter minyak pun" jika serangan yang sedang berlangsung oleh militer AS dan rezim Israel terhadap Iran dan infrastrukturnya terus berlanjut," kata kantor berita semi-resmi Iran, Tasnim News Agency, Selasa (10/3/2026).
Naeini pada Senin (9/3/2026) malam waktu Iran menuding Trump adalah presiden Amerika yang berbohong, karena secara keliru mengklaim bahwa kekuatan Angkatan Bersenjata Iran telah tamat hanya demi menghindari tekanan akibat perang yang dibuatnya, dan mengakhiri keputusasaan tentara Amerika yang dikerahkan dalam perang ini.
“Trump yang kriminal, setelah kekalahan memalukan dalam perang, berusaha menciptakan prestasi dalam pertempuran, menipu opini publik, dan menghindari tekanan psikologis. Kita tidak melihat apa pun dari Trump selain kebohongan. Dia mengklaim bahwa kapal komersial dan militer berada di wilayah kami dan dengan mudah melewati Selat Hormuz, sementara kapal angkatan laut AS, kapal perusaknya, dan semua jet tempurnya telah mundur lebih dari 1.000 kilometer karena takut pada rudal dan drone Iran yang kuat,” kata Naeini.
"Para prajurit angkatan laut Trump yang pengecut dan penakut telah menjauhkan diri lebih dari 1.000 kilometer setelah kami menembakkan empat rudal ke USS Abraham Lincoln,” imbuhnya.
Ia juga membongkar kalau klaim Trump bahwa situasi yang dihadapi tentara AS di pangkalan-pangkalan militernya yang tersebar di berbagai negara tetangga Iran, seperti Uni Emirat Arab (UEA), Bahrain, Kuwait dan Arab Saudi, normal dan ideal, adalah bohong.
“Tentara-tentara Amerika itu justru menjadi pengungsi di kota-kota di negara itu dengan membawa serta ransel mereka karena melarikan diri dari pangkalan militernya, di mana beberapa di antara mereka 'berlindung' di hotel,” kata Naeini.
Ia juga membongkar kalau tentara Israel sama takutnya dengan tentara Amerika, sehingga menjadikan penduduk sipil sebagai tameng.
“Tentara Israel bersembunyi di antara warga sipil dan fasilitas perkotaan, menciptakan perisai manusia untuk mengamankan diri mereka sendiri," katanya.
Ia juga mengingatkan Trump bahwa rudal Iran kini berkurang karena telah perang hari ini memasuki hari ke-10 adalah salah.
“Trump secara keliru mengklaim bahwa kami mengurangi dan menghentikan peluncuran rudal, karena rudal Iran sekarang justru lebih kuat daripada di awal perang, diluncurkan dengan muatan dan hulu ledak yang lebih besar melebihi satu ton ke arah pangkalan militer Amerika dan rezim Zionis,” katanya.
Naeini juga mengungkap bahwa tentara Israel di wilayah pendudukan (Yerusalem, red) saat ini terus-menerus’ dalam kecemasan. Begitupun penduduk Israel yang berlindung di bunker-bunker dan warga Israel yang ikut berlindung di bunker setelah gagal terbang ke luar negeri karena bandaranya dirudal Iran.
"Inilah yang lebih mencerminkan realitas di lapangan,” katanya.
Naeini mengingatkan bahwa pada Desember 2025 lalu Trump "berusaha membawa" rakyat Iran turun ke jalan untuk amelawan Republik Islam dan menyebabkan keruntuhan sosial di Iran.
"Tetapi hari ini ia telah menghadapi tamparan keras dari rakyat Iran yang sadar. Mereka penuh kemarahan dan keinginan balas dendam kepada Trump dan Netanyahu yang kriminal," imbuhnya.
“Trump mencoba menggoyahkan Republik Islam melalui pembunuhan terarah terhadap para pemimpin dan komandan militer senior secepat dan semurah mungkin, tetapi pemilihan Pemimpin Iran yang layak dan kuat serta pengelolaan perang yang efektif oleh para komandan militer Iran telah membuat mereka frustrasi dan putus asa, membuat sekutunya kehilangan harapan mengenai kemungkinan runtuhnya Republik Islam,” sambung juru bicara IRGC itu.
“Trump mengklaim campur tangan dalam pemilihan kepemimpinan sesuai dengan keinginan kotornya, tetapi hari ini seorang tokoh revolusioner dan anti-Amerika telah dipilih sebagai Pemimpin Revolusi, dan Khamenei yang terhormat telah menjadi lebih muda,” tegasnya.
“Trump memulai perang ini dengan kebohongan kepada rakyat Amerika, tetapi sekarang tanggapan kita telah membuatnya bingung dan putus asa. Sebelum perang, dia mengklaim mengendalikan harga minyak, sementara hanya dalam sembilan hari pertama konflik, harga minyak hampir berlipat ganda, dan hari ini dia berusaha menghindari harga minyak yang sangat tinggi untuk para mitranya dengan bantuan alat bantu pernapasan buatan,” kata Naeini.
"Angkatan Bersenjata Republik Islam tidak akan mengizinkan satu liter pun minyak diekspor dari wilayah tersebut hingga pemberitahuan lebih lanjut karena agresi yang terus berlanjut oleh tentara AS dan rezim Zionis terhadap rakyat Iran dan infrastruktur layanan. Upaya mereka yang gagal untuk mengurangi dan mengendalikan harga minyak dan gas akan bersifat sementara dan sia-sia,” katanya.
Seluruh Infrastruktur AS di Timteng Telah Dihancurkan
Naeini mengungkap bahwa semua infrastruktur militer AS di wilayah Teluk Persia telah dihancurkan.
“Hampir 10 radar canggih AS telah dihancurkan di seluruh wilayah tersebut. Banyak drone mahal milik AS telah dihancurkan oleh pertahanan udara Iran. Tangan kami terbuka untuk meningkatkan perang. Keamanan bagi semua berarti ketidakamanan bagi semua. Kitalah yang akan menentukan akhir perang,” tegas Naeini.
Dengan jumawa, Jubir IRGC ini mengatakan bahwa Angkatan Bersenjata Iran sedang menunggu armada angkatan laut AS di Selat Hormuz dan mengantisipasi kapal induk USS Gerald Ford.
"Situasi di kawasan ini dan status masa depannya kini berada di tangan Angkatan Bersenjata Republik Islam. Pasukan Amerika bukanlah pihak yang akan mengakhiri perang ini," tegasnya.
Seperti diketahui, Perang AS-Israel Vs Iran dimulai ketika AS-Israel menyerang Iran pada tanggal 28 Februari 2026 yang menewaskan puluhan petinggi Iran, termasuk Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei.
Donald Trump menduga terbunuhnya Khamenei akan melemahkan Iran, akan tetapi ternyata keliru. Persenjataan Iran pun, terutama rudal dan drone, ternyata di luar dugaan, sehingga alih-alih perang dapat diakhiri dalam 2x24 jam, perang berlanjut hingga hari ini dengan Amerika dan Israel mengalami kerugian besar.
Israel, khususnya Tel Aviv, hancur sebagaimana Israel menghancurkan Gaza. Ketika ladang minyak Iran dihancurkan AS-Israel, Iran juga mampu menghancurkan ladang minyak AS dan Israel.
Iran bahkan dapat memukul kapal induk AS Abraham Lincoln yang mencoba masuk ke Selat Hormuz, dan kabur setelah dihantam Iran dengan rudal. (man)


