Jakarta, Harian Umum - India tiba-tiba menjadi pergunjungan dunia, menyusul ditenggelamkannya kapal Fregat Iran oleh Amerika Serikat (AS), Rabu (4/3/2026), di lepas pantai selatan Sri Lanka.
India dituding sebagai pihak yang memberitahu AS tentang keberadaan kapal itu, sehingga dengan mudah menghancurkannya, karena kapal Fregat Iran tidak dalam posisi tempur.
"BREAKING: India menjadi perbincangan di seluruh dunia sebagai "Negara Pengkhianatan" setelah sebuah kapal Angkatan Laut Iran dihancurkan oleh kapal selam AS di Samudra Hindia," kata pemilik akun @ZardSi, Kamis (5/3/2026).
Tuduhan lebih detil diungkap pemilik akun @drhossamsamy65. Dia mengatakan sebagai berikut:
"Pengkhianatan India ‼️
⛔️ India mengundang Iran untuk berpartisipasi di MILAN 2026, Iran menghormati undangan ini dan mengirimkan 200 pelaut.
⛔️Mereka masih berada di sana ketika perang pecah antara Iran dan AS/Israel.
⛔️Kapal itu sedang kembali dari India dengan lebih dari 200 pelaut di dalamnya ketika India memberi tahu Amerika Serikat bahwa Iran berada di halaman belakang mereka, beberapa saat kemudian angkatan laut AS tiba dan menenggelamkannya dengan beberapa torpedo di Samudra Hindia.
⛔️Lebih dari 80 pelaut telah dipastikan tewas dan lebih dari 120 lainnya masih hilang.
⛔️Ini adalah pengkhianatan tingkat rendah yang sangat keji😡😡".
Kemarahan terhadap India pun berkobar. Pemilik akun @XolaniMamkeli memposting foto Perdana Menteri India Narendra Modi dan memberinya narasi begini:
"Inilah wajah seorang pengkhianat. Modi adalah seorang pengkhianat. Tangannya juga berlumuran darah para pelaut Iran".
The Guardian sebelumnya mengabarkan, sebuah torpedo yang ditembakkan kapal selam AS, Rabu (4/3/2026), menenggelamkan kapal perang Iran di lepas pantai selatan Sri Lanka.
"Setidaknya 87 pelaut Iran tewas dalam serangan terhadap Iris Dena pada hari Rabu itu," kata The Guardian, Kamis (5/3/2026).
Kapal fregat milik Iran itu sedang berlayar di perairan internasional untuk kembali ke Iran setelah menjalani latihan angkatan laut yang diselenggarakan India di Teluk Bengal.
"Serangan torpedo tersebut memicu pertanyaan dari mantan pejabat AS tentang apakah tujuan Washington melenyapkan seluruh militer Iran, karena melanggar hukum internasional," kata The Guardian lagi.
Pete Hegseth, mantan pembawa acara Fox News yang sekarang memimpin Pentagon sebagai Menteri Pertahanan, mengonfirmasi bahwa AS menenggelamkan Iris Dena saat berlayar dekat pantai Sri Lanka. Pentagon merilis rekaman hitam-putih yang menunjukkan torpedo berat Mark 48 menghantam fregat tersebut, menyebabkan semburan air laut ke udara.
Sebuah kapal selam Amerika menenggelamkan kapal perang Iran yang mengira dirinya aman di perairan internasional,” kata Hegseth. Ia mengatakan serangan itu dilakukan pada Selasa malam.
“Kapal itu ditenggelamkan oleh torpedo, kematian yang tenang – penenggelaman kapal musuh pertama oleh torpedo sejak Perang Dunia II,” tambah Hegseth.
“Seperti dalam perang itu, ketika kita masih menjadi departemen perang, kita berjuang untuk menang," imbuhnya. (man)


