Jakarta, Harian Umum - Media sosial semakin diramaikan oleh dugaan pengkhianatan India terhadap Iran yang membuat kapal Fregat Iran ditembak kapal Amerika Serikat (AS) dengan torpedo, Rabu (4/3/2026), hingga hancur berkeping-keping.
Kapal itu membawa sekitar 200 pelaut di mana 87 di antaranya sudah dipastikan tewas dan sisanya masih hilang.
Salah satu figur yang mengungkapkap dugaan itu adalah Pengamat Timur Tengah yang juga Analis Geopolitik, Dina Sulaiman melalui akun X-nya, Jumat (6/3/2026).
Menyadur postingan @ricwe123, Dina membeberkan kronologi penembakan Kapal Fregat bernama lris Dena tersebut.
Berikut isi postingannya:
Konspirasi AS-India?
Sebuah kapal Iran yang tidak bersenjata diundang untuk ikut serta dalam latihan angkatan laut India bersama Amerika Serikat. Para pelautnya disambut di darat dan diarak di hadapan presiden sebagai isyarat kerja sama.
Kemudian, pada saat-saat terakhir, Amerika Serikat tiba-tiba menarik diri dari latihan tersebut, hanya untuk berbalik dan menembak kapal yang baru saja berada di sampingnya dengan torpedo.
Apa yang terjadi selanjutnya bahkan lebih mengerikan.
Setelah menyerang kapal yang tidak bersenjata, AS menolak untuk menyelamatkan para pelaut yang telah mereka lemparkan ke laut, meninggalkan mereka untuk tenggelam.
Pekerjaan berat untuk menemukan jenazah diserahkan kepada Angkatan Laut Sri Lanka.
Ini bukanlah peperangan, melainkan pengkhianatan yang paling memalukan: penyergapan yang dilakukan dengan dalih diplomasi, diikuti dengan penolakan dingin untuk menunjukkan bahkan kesopanan manusiawi paling dasar kepada orang-orang yang sekarat.
Ini akan mewakili runtuhnya setiap norma yang seharusnya mengatur perilaku beradab di laut.
Namun, alih-alih kemarahan, sebagian besar tanggapan media Amerika adalah ketidakpedulian atau rasionalisasi. Oleh media AS, pemboman sekolah anak perempuan diabaikan begitu saja; pembicaraan tentang pemboman besar-besaran di Teheran diutarakan seolah-olah itu hanyalah pilihan kebijakan lain.
Ketika kekejaman dinormalisasi dan kebrutalan disamarkan sebagai "strategi," garis antara pelaporan (peliputan media) dan keterlibatan (media) mulai menghilang.
(diterjemahkan dari @ricwe123 )
Sebelumnya, The Guardian melaporkan bahwa sebuah torpedo yang ditembakkan kapal selam AS, Rabu (4/3/2026), menenggelamkan kapal perang Iran di lepas pantai selatan Sri Lanka.
"Setidaknya 87 pelaut Iran tewas dalam serangan terhadap kapal bernama Iris Dena itu pada hari Rabu," kata The Guardian, Kamis (5/3/2026).
Kapal fregat milik Iran itu sedang berlayar di perairan internasional untuk kembali ke Iran setelah menjalani latihan angkatan laut yang diselenggarakan India di Teluk Bengal.
"Serangan torpedo tersebut memicu pertanyaan dari mantan pejabat AS tentang apakah tujuan Washington melenyapkan seluruh militer Iran, karena melanggar hukum internasional," kata The Guardian lagi.
Pete Hegseth, mantan pembawa acara Fox News yang sekarang memimpin Pentagon sebagai Menteri Pertahanan, mengonfirmasi bahwa AS menenggelamkan Iris Dena saat berlayar dekat pantai Sri Lanka. Pentagon merilis rekaman hitam-putih yang menunjukkan torpedo berat Mark 48 menghantam fregat tersebut, menyebabkan semburan air laut ke udara.
Sebuah kapal selam Amerika menenggelamkan kapal perang Iran yang mengira dirinya aman di perairan internasional,” kata Hegseth. Ia mengatakan serangan itu dilakukan pada Selasa malam.
“Kapal itu ditenggelamkan oleh torpedo, kematian yang tenang – penenggelaman kapal musuh pertama oleh torpedo sejak Perang Dunia II,” tambah Hegseth.
“Seperti dalam perang itu, ketika kita masih menjadi departemen perang, kita berjuang untuk menang," imbuhnya. (man)







